Rabu, 13 November 2013

carok Alias Duel Berkelahi

Dua orang tenaga kerja indonesia asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur, carok alias duel menggunakan senjata tajam berujung salah seorang di antaranya tewas.

"Korban tewas dalam kasus perkelahian menggunakan senjata tajam itu bernama Niman, warga Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar," kata Kepala Polres Pamekasan, AKPB Nanang Chadarusman, di Pamekasan, Jawa Timur, Selasa sore.

Pelaku pembunuhan Niman itu diketahui tetangganya sendiri yang juga sama-sama bekerja di Malaysia. Carok dalam kultur etnik Madura biasanya berlatar pembelaan terhadap harga diri, martabat, atau kehormatan diri pelaku atau keluarganya.

"Tapi nama pelaku ini belum kami ketahui, dan masih menunggu informasi dari anggota yang kami perintahkan ke loksi," katanya.

Kasus perkelahian antara dua TKI asal Pamekasan di tempat kerjanya di Malaysia itu terjadi beberapa hari lalu, dan malam ini jenazah korban akan tiba di rumah duka di Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar.

Polres sendiri belum mengetahui secara pasti penyebab perkelahian bersenjata tajam kedua TKI asal Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan.

"Kabarnya kasus carok TKI asal Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar di Malaysia itu sudah empat hari lalu," kata Chadarusman.

Desa Bujur Barat, adalah salah satu desa di Kecamatan Batumarmar yang warganya banyak merantau menjadi TKI di Malaysia.

Menurut Kepala Desa Bujur Barat Rojai, hampir sekitar 70 persen warganya menjadi TKI dengan negara tujuan terbanyak Malaysia selain Arab Saudi.

Desa Bujur Barat ini juga dikenal sebagai desa yang terisolir, karena akses transportasi menuju desa itu sangat parah, sehingga tahun ini pemerintah Kabupaten Pamekasan menjadikan desa itu sebagai sasaran program Bunga Bangsa, yakni Bupati Membangun Desa.

Rabu, 02 Oktober 2013

Peneliti Dari University Of Adelaide

Peneliti dari University of Adelaide, Australia, mengembangkan proses mengubah limbah plastik menjadi teknologi nanomaterial. Inovasi nanoteknologi ini menggunakan kantong plastik yang tidak bisa terurai secara alami, untuk membuat 'membran karbon nanotube", material dengan berbagai potensi aplikasi seperti penyaringan, penyimpanan energi, dan inovasi biomedical.

"Plastik yang tidak bisa terurai secara alami merupakan ancaman serius  untuk ekosistem alami dan juga menimbulkan masalah pembuangan," kata Profesor Dusan Losic, periset nanoteknologi dari bagian Teknik Kimia universitas tersebut.

"Mengubah limbah melalui 'daur ulang nanoteknologi' memberikan solusi untuk mengurangi polusi lingkungan sekaligus membuat produk bernilai tinggi," tambahnya, seperti yang dikutip dari ScienceDaily.

Karbon nanotube merupakan tabung kecil atom karbon, berdiameter 1 nanometer (1/10.000 diameter rambut manusia). Karbon nanotube merupakan material terkuat yang pernah ditemukan, ratusan kali lebih kuat dari baja tetapi enam kali lebih ringan. Material itu mengandung listrik, panas, dan memiliki potensi riset.

Karbon nanotube telah digunakan di benda eletronik, peralatan olah raga, baterai tahan lama, alat pengindera, dan turbin angin.

Grup Riset Nanoteknologi University of Adelaide telah mengembangkan karbon nanotube menjadi membran nanoporous alumina. Mereka menggunakan kantong plastik yang diuapkan untuk membuat lapisan karbon yang menghubungkan pori-pori di membran untuk membuat silinder kecil (karbon nanotube).

Pasar potensial karbon nanotube bergantung pada kemampuan industri untuk membuatnya dalam jumlah besar, murah, dan seragam. Metode yang digunakan saat ini melibatkan proses dan peralatan yang rumit. Kebanyakan perusahaan baru mampu menghasilkan beberapa gram per hari.

"Di pabrik kami, kami mengembangkan metode baru yang sederhana dengan dimensi dan bentuk yang dapat diatur. Kami juga menggunakan produk limbah sebagai sumber karbon," kata Losic. Ia mengklaim limbah plastik dapat digunakan tanpa menghasilkan zat beracun.